“Selamat pagi, Bu. Kami dari Remaja Islam Sunda Kelapa (RISKA), sedang menggalang dana untuk penyuluhan gigi dan santunan buku di Kampung Monyet, Cipinang. untuk itu kami menjual pisang. Siapa tahu Ibu berminat,"ucap saya pada calon kostumer pertama. Ibu yang berusia 70 tahun-an itu memperhatikan saya mulai ujung kepala sampai ujung kaki. "Emangnya kamu jual pisang apa sih. Oh ada ya Kampung Monyet itu?" Dengan semangat 45, saya menjelaskan kembali visi RISKA mengadakan kegiatan yang akan dilaksanakan akhir Februari nanti.
Sejurus kemudian dia bertanya," trus kenapa kamu mesti jauh- jauh dari Cipinang ke sini?" Kembali saya menekankan kalau kami ingin memulai dari sekitar Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK).
Ibu itu masih keheranan dengan kedatangan saya dan Tania di minggu pagi yang cerah itu. Ketika Ia memutuskan untuk melihat persediaan pisang kami, langsung dengan isyarat tangan saya panggil Tania yang memarkirkan motor diseberang jalan. Kami memang mengatur strategi: saya mencari target pembeli door to door. Sedangkan Tania selalu stand by dimotor yang memuat kardus pisang diboncengan.
Tania perlu berhati-hati memutar stang motor untuk dikemudikan ke seberang jalan. Setelah teman sesama RISKA-der tersebut sampai didepan pintu gerbang, ia tidak turun. Saya langsung menghampirinya dan menurunkan beberapa ikat pisang Sunrise dan ambon.
Alammakk, beberapa sudah ada yang bonyot karena tertumpuk dengan pisang lainnya. Hanya pisang ambon saja yang tetap kuning segar dan masih kokoh. Saya menabahkan diri untuk tetap stay cool. Dalam hati saya bilang, Insya Allah kalau niat kita baik, kostumer akan menghargai kita.
“Nah, ini Bu, pisangnya. Semuanya kami pukul rata Rp. 50 ribu/ikat,"dengan wajah sumringah namun kembali mencoba menabahkan diri pada respon negatif yang akan timbul. sontak Ibu itu keheranan. Walaupun Ia tinggal di jalan Madiun Menteng, dimana sepanjang jalan tersebut berjajar rumah gedongan dengan halaman luas, tetap ia terkaget-kaget. Sudah bisa ditebak, pertanyaan selanjutnya, "Kok mahal banget?" Untung hitungan matematis sudah saya persiapkan.
Saya katakan bahwa berat rata-rata per-ikatnya hampir 1,5 kg. Di Carrefour, pisang sunrise dipatok sekitar Rp. 15 ribu/kg. Itupun isinya 4-6 pisang. Sedangkan pisang yang saya bawa berisi 8-9 pisang. Justru harga lebih tinggi, itu bagian dari pencarian dana. Intinya pada sang Ibu saya bilang kalau beliau gak akan rugi-rugi amat beli pisang seharga Rp. 50 ribu.
Rambut putihnya sesekali terkibaskan oleh angin pagi yang sejuk. Wajah bijak-nya fokus meneliti pisang yang saya gelar di halaman depan yang beralaskan semen. Ternyata si Ibu tidak familiar dengan sunrise. "Boleh kok kalau Ibu mau coba," awalnya Ia menolak. Katanya Ia tidak sampai hati memakan dagangan untuk pencarian dana.
Namun karena saya langsung menyodorkan satu pisang untuknya, ia mau menerimanya. Pisang dipotong separuh. Separuh sisanya Ia sodorkan pada beberapa pembantunya yang ikut mengelilingi saya, "nyoh jare koe durung ngerti rasane pisang Sunrise," pembantumya malah segan dan menolak halus. Tak sampai 2 menit, ada keputusan besar buat kami. "Ya sudah, saya ambil satu dulu saja ya mbak,"
Langsung Ibu masuk kedalam rumah kemudian keluar lagi dengan menyerahkan Rp. 50 ribu. Kwitansi saya keluarkan. Disana selain tertulis nama dan jumlah nominal transaksi, juga tertulis nama saya, no HP, email pribadi, website serta email RISKA.
Ketika kami berpamitan pulang, ia bertanya, gimana caranya kami membawa 10 sisir pisang itu door to door dengan motor. Wajar saja banyak yang bertanya. Melihat motor Tania jenis Yamaha Mio, ditunjang tubuh kami berdua yang kecil tapi turut dibebani kardus berukuran sedang, kok ngelihatnya riweuh banget, hahahahaha...
Kemudian kami jelaskan kalau pisang-pisang itu ditumpuk didalam beberapa tas jinjing. Sedangkan kardus itu saya dudukkan dipangkuan. Karena tertumpuk-tumpuk, wajar saja mengapa hampir semua pisang bonyot.
Si Ibu paham. Ia melepas kami berdua dengan pesan "sukses ya mbak"
Amin
Dari kostumer pertama kami belajar banyak hal:
1. Kita nggak boleh under-estimate orang alias memandang sebelah mata. Belum tentu kostumer yang pakaiannya sederhana, gak bisa membeli produk kita. Begitu juga sebaliknya. Belum tentu orang dengan pendapatan berlebih mau merelakan uangnya untuk mendapatkan produk yang kita tawarkan.
Berdasarkan pengalaman berjualan dalam beberapa tahun ini, kerelaan kostumer menyisihkan uangnya untuk kita tidak selalu karena kebutuhan. Seringkali karena hubungan baik dan kejelasan tujuan kita berjualan, mereka simpatik.
2. Kembali lagi semuanya bersumber pada niat. Kalau niat kita baik, jujur, adil dan terbuka, orang yang baru kenal-pun tanpa pikir panjang mempercayakan uangnya pada kita.
Saya banyak belajar dari menjual parfum. "Alah dasar lu bilangnya tulus bantu orang tapi lu dapet bagian juga kannn,"ucap teman saya mengomentari atas keuntungan yang saya dapatkan dari berjualan parfum.
Saya bilang, memang dari awal saya ga kepikiran untuk mengambil margin penjualan. Saya hanya berpikir kalau saya bisa dijadikan mediator antara penjual dan pembeli tanpa keluar biaya operasional, kenapa harus ambil margin?
Tapi akhirnya partner bisnis saya justru yang sadar diri. Katanya, harga penawaran pada pembeli memang sudah terrmasuk biaya reseller semacam saya. Kalaupun harga jual diturunkan dengan mengambil upah saya, itu akan merusak harga pasar. Memang benar, harga pasar rusak setelah saya memberi diskon besar-besaran.
3. Jangan pernah malu.malu untuk susah, malu untuk angkat-angkat serta malu menawarkan ke setiap orang.
Inilah bedanya perlakuan terhadap wartawan dengan penjual.
Sebagai wartawan majalah bisnis, saya terbiasa menerima previledge, akses yang terbuka dan fasilitas yang mungkin tidak saya dapatkan jika saya tidak berprofesi seperti sekarang.
Beda banget dengan ketika saya dagang. Hmm...kadang dilirik aje kagak. Paling banter mereka menolak dengan halus. Sama seperti kejadian dikawasan Menteng hari minggu lalu. "Maaf mbak, baru saja pembantunya beli pisang," atau "wah kalau hari libur kayak gini, biasanya yang punya rumah baru bangun jam 10, mbak"
Hhhh....hhhh...kemarin sih gak terasa perih hati dibegitukan, soalnya itukan bukan mata pencaharian saya. Jadi masih kerasa enteng menghampiri dari satu rumah kerumah lainnya.
Tappii, sepulang dari jadi sales pisang dadakan, akhirnya saya mengerti gimana susahnya cari uang. Pedddiiih banget pastinya jika itu adalah mata pencaharian utama dan kita ditolak.
4. Kapanpun, dimanapun, kita harus selalu meyakini kalau Allah itu dekat. Kalaupun kita sendiri menjajakan dagangan, ada Allah yang selalu menemani. Laku atau tidaknya dagangan kita, selain karena kualitas produk dan strategi pemasaran, itu semua karena ada Allah yang mengatur. Kita akan bertemu calon kostumer semacam apa, juga karena campur tangan Allah. Basmallah dan hamdallah selalu tercurah padanya.
5. Kita sering pakai kata "tapi". Tapi gue kan gak punya modal, tapi gimana dong nanti kalau ga ada yang suka, tapi minggu pagi-kan orang lebih suka beristirahat, tapi mana mungkin ada yang beli harga pisang yang mahal gitu...dan sederet "TAPIi"
Thanks to Edoy-bapaknya Rendra- yang menyemangati saya untuk mencoret TEBAL-TEBAL kata itu.
Gak ada yang gak mungkin. Asal ada kemauan dan kerja keras, semuanya menjadi mungkin. Bahasa keren-nya mah: Let's do the best, Allah will do the rest"
Wednesday, January 19, 2011
Thursday, December 30, 2010
Menu Ikan Mahal
Ini aku tergelitik pingin banget cerita lucu. Pagi-pagi sedang mengerjakan laporan, dimilis NCC (milis kuliner) ada anggota yang share pengalaman menu ikan Koi goreng. Wakkkss, gimana ya rasanya ikan mahal itu?
Temanku punya piaraan 5 ikan koi. Karena air kolamnya ga pernah diganti, 3 koi mati. Waktu temanku tanya sàma pembantunya, "dikubur dimana?"..eeh si pembantu dengan polosnya bilang, " sudah digoreng, Bu" whaaatyttsss... Kemudian dilanjutkan "juga sudah dimakan. Ini tinggal satu sisanya" Itu si 'mba sampai bingung antara sedih, kecewa dan malah pingin ketawa satir.
Cerita makan ikan mahal sebetulnya pernah terjadi dikeluarganya. Lebih tepatnya terjadi pada om-
nya.
Ceritanya kurang lebih 20 tahun yang lalu si Om sore-sore pulang abis beli ikan Arwana Gold yang lumayan gede seharga 20 juta.
Sampai di rumah dikasihlah ke pembantunya -maksud hati biar ditaro akuarium- apa daya si Asisten Rumah Tangga (ART) rada polos, dibawalah ikan itu ke dapur disiangi dan digoreng!!
Makan malem si Om makan ikan dengan lahapnya, katanya uenak banget.... Dipanggillah si ART trus ditanya, itu ikan apa.... Dengan polos si ART jawab 'ingkang dibetha bapak wau' (yg dibawa bapak tadi-red) dan saat itu juga si om langsung pingsan.... Beneran pingsan abis makan ikan 20jt yg umurnya cm 1,5 jam......
Tragis....
Ketika diceritakan hal itu, temanku gak bisa berhenti ketawa. Dan apa yang terjadi dengan om-nya 20 tahun lalu juga terjadi padanya pagi ini.
Pengalaman itu memunculkan pendapat teman milis lainnya. Sama-sama ikan Arwana. Kalau yang satu ini suaminya pemelihara semua jenis binatang, termasuk Arwana. Tiba-tiba Arwana-nya loncat dari akuarium. Akhirnya mati.
Suami temanku tega menyuruh isterinya menggorengnya. Temanku sih gak tega. Bahkan gak berniat makan. Dia minta pembantunya membersihkan. Asli, saking kerasnya, sang ART harus nyabutin sisiknya pake Tang satu persatu.
Aku cerita kayak gini sama teman maya, dia malah nyeletuk: "makin banyak, ya orang kaya di Indonesia sehingga Arwana aja bisa mampir ke meja makan"
jadi makan ikan Mujaer udah turun kelas sosial dong yaaa.....
ah tetap aja aku mah pingin berteriak: Hidup Lele!! (ikan sejuta ummat)
Temanku punya piaraan 5 ikan koi. Karena air kolamnya ga pernah diganti, 3 koi mati. Waktu temanku tanya sàma pembantunya, "dikubur dimana?"..eeh si pembantu dengan polosnya bilang, " sudah digoreng, Bu" whaaatyttsss... Kemudian dilanjutkan "juga sudah dimakan. Ini tinggal satu sisanya" Itu si 'mba sampai bingung antara sedih, kecewa dan malah pingin ketawa satir.
Cerita makan ikan mahal sebetulnya pernah terjadi dikeluarganya. Lebih tepatnya terjadi pada om-
nya.
Ceritanya kurang lebih 20 tahun yang lalu si Om sore-sore pulang abis beli ikan Arwana Gold yang lumayan gede seharga 20 juta.
Sampai di rumah dikasihlah ke pembantunya -maksud hati biar ditaro akuarium- apa daya si Asisten Rumah Tangga (ART) rada polos, dibawalah ikan itu ke dapur disiangi dan digoreng!!
Makan malem si Om makan ikan dengan lahapnya, katanya uenak banget.... Dipanggillah si ART trus ditanya, itu ikan apa.... Dengan polos si ART jawab 'ingkang dibetha bapak wau' (yg dibawa bapak tadi-red) dan saat itu juga si om langsung pingsan.... Beneran pingsan abis makan ikan 20jt yg umurnya cm 1,5 jam......
Tragis....
Ketika diceritakan hal itu, temanku gak bisa berhenti ketawa. Dan apa yang terjadi dengan om-nya 20 tahun lalu juga terjadi padanya pagi ini.
Pengalaman itu memunculkan pendapat teman milis lainnya. Sama-sama ikan Arwana. Kalau yang satu ini suaminya pemelihara semua jenis binatang, termasuk Arwana. Tiba-tiba Arwana-nya loncat dari akuarium. Akhirnya mati.
Suami temanku tega menyuruh isterinya menggorengnya. Temanku sih gak tega. Bahkan gak berniat makan. Dia minta pembantunya membersihkan. Asli, saking kerasnya, sang ART harus nyabutin sisiknya pake Tang satu persatu.
Aku cerita kayak gini sama teman maya, dia malah nyeletuk: "makin banyak, ya orang kaya di Indonesia sehingga Arwana aja bisa mampir ke meja makan"
jadi makan ikan Mujaer udah turun kelas sosial dong yaaa.....
ah tetap aja aku mah pingin berteriak: Hidup Lele!! (ikan sejuta ummat)
Tuesday, December 21, 2010
Bercerita
aaargg, dari tiga jam lalu saya ingin menulis kisah persahabatan antara saya, Jie Meilind, dan Chen Laoshi... sayang sekali karena harus mengirimkan beberapa email untuk narasumber, kini sudah terlalu mengantuk untuk bererita...
kita sudahi saja ya. besok aja, sekalian sapa tahu ada update gosip lainnya ;)
salam manis,
Riri
kita sudahi saja ya. besok aja, sekalian sapa tahu ada update gosip lainnya ;)
salam manis,
Riri
Wednesday, December 15, 2010
ngenet
hhh..hhh, saking "addict"-nya sama ngenet (istilah bermain internet saat kuliah), jadi malas pulang dari kantor...
"ah kamu percuma dong punya BB tapi masih aja pulang pagi,"tukas teman saya mengomentari. nggg...masalahnya saya ikutan paket BB Telkomsel yang hanya bisa berkirim dan menerima email serta chatting seperti YM dan BBM. gak ada itu urusan browsing. maklum cuma Rp.65 ribu/bulan.
yup bagooosss, keadaan itu bisa saya nikmati sampai tanggal 6 Januari 2010. mana Wi-Finya gak terkoneksi. padahal kalo pake laptop, ketangkep dengan sinyal penuh.
hrrhhhrrhr.....
nasib...tapi tetep alhamdullilah bisa membeli BB.
"ah kamu percuma dong punya BB tapi masih aja pulang pagi,"tukas teman saya mengomentari. nggg...masalahnya saya ikutan paket BB Telkomsel yang hanya bisa berkirim dan menerima email serta chatting seperti YM dan BBM. gak ada itu urusan browsing. maklum cuma Rp.65 ribu/bulan.
yup bagooosss, keadaan itu bisa saya nikmati sampai tanggal 6 Januari 2010. mana Wi-Finya gak terkoneksi. padahal kalo pake laptop, ketangkep dengan sinyal penuh.
hrrhhhrrhr.....
nasib...tapi tetep alhamdullilah bisa membeli BB.
Tuesday, December 14, 2010
Hiruk pikuk dunia
Keikhlasan hidup anak manusia teruji setiap hari. bahkan kalaupun kita bilang: "gue iklhas kok dengan keadaan ini," pada kenyataannya, tidak sesuai dengan perkataan. kini dihadapan saya, ada seorang teman maya berkeluh kesah. tentang hidup, tentang kekecewaan. tentang asa yang terbelenggu dan tentang harapan yang tak tersalurkan.
perempuan ini saya tahu betul begitu ikhlas menjalani roda kehidupan.wataknya keras.gigih tapi akhirnya beberapa tahun terakhir pernyataannya selalu berakhir dengan nada tak bersemangat. ada marah dalam dirinya.kecewa.
beberapa kali perbincangan kami melalui YM, selalu membuat saya sedih. sedih karena ia tak bersemangat lagi.sedih karena ia menahan amarahnya.sedih karena ia selalu memendam ketidaksukaan.sekaligus saya kecewa karena Ia selalu mengingat-ingat masa lampau.
"Gue cerita gini Ri, bukan berarti pingin mempengaruhi kamu tapi ya itulah lingkungan kita,"
Awalnya saya "excited" mendengar ceritanya tanpa membantah. namun lama kelamaan saya justru sedih. dibalik keceriaan yang ditunjukkan pada teman lainnya, sesungguhnya ada marah dan segudang kekecewaan. sobat karib saya itu begitu baiknya sampai saya tidak ingin Ia diliputi rasa marah berlebih.
apalagi ketika mengetahui pendapatannya terpangkas karena sebuah sistem. "Trus mba hidup pakai apa?"tanya saya agak takjub dengan penghasilannya yang merosot drastis.
"Yah Ri, rejeki mah dateng dari mana saja,"tulisnya dalam obrolan kami. lagi lagi sepertinya kami lebih nyaman jika berbicara-dari-hati-kehati via YM.
akhirnya karena ada hal lainnya yang perlu diobrolkan via telepon, saya langsung menghubunginya. suaranya pasrah.ikhlas. dia bilang agar saya segera mengambil keputusan apakah tetap bertahan atau mencari pegangan hidup lainnya. "mumpung kamu masih muda, Ri. kembangkan talenta-mu sebaik-baiknya,"ulasnya.
akhirnya bagi saya, itulah cara Allah menunjukkan sebuah "insight" melalui realita hidup. Dalam ayat 20-21; Surat Al-hadid, disebutkan bahwa dunia ini sesungguhnya hanya permainan dan sesuatu yang melelahkan.
Hanya dengan berserah pada Allah dan melakukan pekerjaan sebaik mungkin, mudah-mudahan kita tidak dilenakan oleh kemewahan dunia.
-untuk seorang sobat karib, aku tahu kamu disana sedang sakit. tidak saja merasakan sakit dibadan akibat terapi setiap minggunya,tapi juga merasakan sakit direlung kalbu terdalam. smoga keikhlasan itu tetap terpancar dalam hati dan tindakanmu-
perempuan ini saya tahu betul begitu ikhlas menjalani roda kehidupan.wataknya keras.gigih tapi akhirnya beberapa tahun terakhir pernyataannya selalu berakhir dengan nada tak bersemangat. ada marah dalam dirinya.kecewa.
beberapa kali perbincangan kami melalui YM, selalu membuat saya sedih. sedih karena ia tak bersemangat lagi.sedih karena ia menahan amarahnya.sedih karena ia selalu memendam ketidaksukaan.sekaligus saya kecewa karena Ia selalu mengingat-ingat masa lampau.
"Gue cerita gini Ri, bukan berarti pingin mempengaruhi kamu tapi ya itulah lingkungan kita,"
Awalnya saya "excited" mendengar ceritanya tanpa membantah. namun lama kelamaan saya justru sedih. dibalik keceriaan yang ditunjukkan pada teman lainnya, sesungguhnya ada marah dan segudang kekecewaan. sobat karib saya itu begitu baiknya sampai saya tidak ingin Ia diliputi rasa marah berlebih.
apalagi ketika mengetahui pendapatannya terpangkas karena sebuah sistem. "Trus mba hidup pakai apa?"tanya saya agak takjub dengan penghasilannya yang merosot drastis.
"Yah Ri, rejeki mah dateng dari mana saja,"tulisnya dalam obrolan kami. lagi lagi sepertinya kami lebih nyaman jika berbicara-dari-hati-kehati via YM.
akhirnya karena ada hal lainnya yang perlu diobrolkan via telepon, saya langsung menghubunginya. suaranya pasrah.ikhlas. dia bilang agar saya segera mengambil keputusan apakah tetap bertahan atau mencari pegangan hidup lainnya. "mumpung kamu masih muda, Ri. kembangkan talenta-mu sebaik-baiknya,"ulasnya.
akhirnya bagi saya, itulah cara Allah menunjukkan sebuah "insight" melalui realita hidup. Dalam ayat 20-21; Surat Al-hadid, disebutkan bahwa dunia ini sesungguhnya hanya permainan dan sesuatu yang melelahkan.
Hanya dengan berserah pada Allah dan melakukan pekerjaan sebaik mungkin, mudah-mudahan kita tidak dilenakan oleh kemewahan dunia.
-untuk seorang sobat karib, aku tahu kamu disana sedang sakit. tidak saja merasakan sakit dibadan akibat terapi setiap minggunya,tapi juga merasakan sakit direlung kalbu terdalam. smoga keikhlasan itu tetap terpancar dalam hati dan tindakanmu-
Wednesday, November 24, 2010
obrolan siang
Dalam status YM-nya, mas Bayu menulis; I love you. hope you love me too. Don't cry for me....
lalu secara iseng saya menyapanya: "lagi jatuh cinta-yaaa..."
dalam jarak yang terentang, dia menulis: "wah seharian cuma komentarmu yang paling menarik dan jitu,"
lalu dia bilang, teman-teman lainnya mengira dia sedang melow dan bahkan bertanya sebetulnya apa yang terjadi.
Usut punya usut ternyata itu adalah bagian dari lirik lagu Don't Cry for me Argentina.
namun pembicaraan kami berlanjut pada masalah pernikahan. "hayo mas Bayu kapan menikah?? atau aku ya yang ketinggalan berita %$%^&^&&
Lalu dia malah balik bertanya, kapan saya sendiri melepas lajang. dengan penuh optimisme saya bilang, insya Allah tahun 2011. seperti tidak yakin, mas Bayu kembali menanyakan memangnya calonnya sudah jelas. lalu saya bilang kalau saya belum tahu siapa Si Pangeran Kodok itu. "Tapi kalau kita meyakini tahun depan punya jodoh, dengan kekuatan pikiran dan doa, "the universe" akan mendukung kita. insya Allah bisa menikah,"tuts keyboard berdetak merangkai kalimat itu.
tak lama kemudian, obrolan kami berhenti. entah mungkin dia jengah dengan pertanyaan sekaligus pernyataan saya tadi. dan dia offline.
untuk mas Bayu, dulu saya dan teman-teman kampus mengenalmu sebagai lelaki kharismatik yang cool, cerdas dan bersahaja. saya doakan perempuan terbaik dalam hidup-mu.
lalu secara iseng saya menyapanya: "lagi jatuh cinta-yaaa..."
dalam jarak yang terentang, dia menulis: "wah seharian cuma komentarmu yang paling menarik dan jitu,"
lalu dia bilang, teman-teman lainnya mengira dia sedang melow dan bahkan bertanya sebetulnya apa yang terjadi.
Usut punya usut ternyata itu adalah bagian dari lirik lagu Don't Cry for me Argentina.
namun pembicaraan kami berlanjut pada masalah pernikahan. "hayo mas Bayu kapan menikah?? atau aku ya yang ketinggalan berita %$%^&^&&
Lalu dia malah balik bertanya, kapan saya sendiri melepas lajang. dengan penuh optimisme saya bilang, insya Allah tahun 2011. seperti tidak yakin, mas Bayu kembali menanyakan memangnya calonnya sudah jelas. lalu saya bilang kalau saya belum tahu siapa Si Pangeran Kodok itu. "Tapi kalau kita meyakini tahun depan punya jodoh, dengan kekuatan pikiran dan doa, "the universe" akan mendukung kita. insya Allah bisa menikah,"tuts keyboard berdetak merangkai kalimat itu.
tak lama kemudian, obrolan kami berhenti. entah mungkin dia jengah dengan pertanyaan sekaligus pernyataan saya tadi. dan dia offline.
untuk mas Bayu, dulu saya dan teman-teman kampus mengenalmu sebagai lelaki kharismatik yang cool, cerdas dan bersahaja. saya doakan perempuan terbaik dalam hidup-mu.
kendali diri
Hari ini seharusnya saya panik.harusnya saya marah.harusnya urat nadi saya berdetak lebih kencang dan harusnya dada saya sakit mengingat kejadian siang tadi. Tapi yang ada, saya malah tersenyum,tenang dan malah berkata dengan santai pada salah seorang manajemen yang saya kirimi e-mail dengan nada peringatan.
Alhamdullilah saya mampu melalui semuanya dengan tenang. ini agak berbeda dengan sosok saya beberapa tahun lampau. saya mudah panik, mengeluarkan kata keras dan pedas.cemberut dan gerak tubuh saya sradak sruduk.
kok bisa ya ada perubahan sedemikian drastis.
mungkin memang ada baiknya dulu saya pernah sebegitu buruknya punya perilaku. kalau tidak begitu saya gak akan belajar menjadi pribadi yang lebih baik. sementara ini memang sudah mulai bisa mengelola emosi: kalau sedang beruntung-tidak terlalu bungah. sedangkan kalau sedang buntung: juga gak terlalu bersungut-sungut.
memang masih agak sulit mengendalikan diri. tapi akhirnya saya ingat perkataan seseorang bahwa berat-ringannya persoalan, tergantung dari bagaimana cara kita memandangnya. hal-hal kecil bisa menjadi satu persoalan besar ketika kita membesar-besarkannya. kalau anak gaul sekarang bilang: lebay :)
Alhamdullilah saya mampu melalui semuanya dengan tenang. ini agak berbeda dengan sosok saya beberapa tahun lampau. saya mudah panik, mengeluarkan kata keras dan pedas.cemberut dan gerak tubuh saya sradak sruduk.
kok bisa ya ada perubahan sedemikian drastis.
mungkin memang ada baiknya dulu saya pernah sebegitu buruknya punya perilaku. kalau tidak begitu saya gak akan belajar menjadi pribadi yang lebih baik. sementara ini memang sudah mulai bisa mengelola emosi: kalau sedang beruntung-tidak terlalu bungah. sedangkan kalau sedang buntung: juga gak terlalu bersungut-sungut.
memang masih agak sulit mengendalikan diri. tapi akhirnya saya ingat perkataan seseorang bahwa berat-ringannya persoalan, tergantung dari bagaimana cara kita memandangnya. hal-hal kecil bisa menjadi satu persoalan besar ketika kita membesar-besarkannya. kalau anak gaul sekarang bilang: lebay :)
Thursday, November 11, 2010
zona nyaman
Ini cuma masalah berani atau tidak. berani untuk keluar dari zona nyaman dan tegar untuk mau susah. "ah kalo lu jadi pengusaha, segagal-gagalnya, paling cuma dua taonan. abis itu insya Allah bisa bangkit,"ucap Edoy tetangga kubikel saya.
dus dia masih menganalisis. gak ada ruginya jadi pengusaha. karena kalaupun gagal, kita masih bisa balik ke orang tua atau sodara. atau apes-apesnya hubungan kita yang tidak harmonis dengan keluarga, masak iya sih gak ada teman karib yang mau nolongin. tokh, kita belum ada tanggungan anak.
Benang merahnya sama: pasti ada banyak jalan berwirausaha. jadi ingat hadis yang mengatakan: sembilan dari sepuluh pintu rejeki berasal dari berdagang. hmmmmm. menggiurkan.
salah satu Paman saya pernah mengatakan: "lu inget-inget niih. gak semua keuntungan dagang berupa uang. misalnye lu jualan telor. bisa jadi telor ketemu telor. ape sebab? ada saatnye telor lu itu belum laku. daripada kadaluarsa, telor bisa dimasak atau dibikin buat bikin kue. kuenya dijual,"ucapnya berapi-api.
jadi, kapan saya berani keluar dari zona nyaman?
dus dia masih menganalisis. gak ada ruginya jadi pengusaha. karena kalaupun gagal, kita masih bisa balik ke orang tua atau sodara. atau apes-apesnya hubungan kita yang tidak harmonis dengan keluarga, masak iya sih gak ada teman karib yang mau nolongin. tokh, kita belum ada tanggungan anak.
Benang merahnya sama: pasti ada banyak jalan berwirausaha. jadi ingat hadis yang mengatakan: sembilan dari sepuluh pintu rejeki berasal dari berdagang. hmmmmm. menggiurkan.
salah satu Paman saya pernah mengatakan: "lu inget-inget niih. gak semua keuntungan dagang berupa uang. misalnye lu jualan telor. bisa jadi telor ketemu telor. ape sebab? ada saatnye telor lu itu belum laku. daripada kadaluarsa, telor bisa dimasak atau dibikin buat bikin kue. kuenya dijual,"ucapnya berapi-api.
jadi, kapan saya berani keluar dari zona nyaman?
Tuesday, November 09, 2010
Dunia ditangan, akhirat dihati
"tuh orang kaya banget. tapi kira-kira bahagia, ngga ya??,"ucap salah seorang kawan karib saya setiap berhadapan dengan sosok pengusaha suskes.
lucu juga ya. kenapa dia selalu mempertanyakan itu. "Ah lu aja yang sirik dan gak mampu seperti dieee,"ucap saya nyerocos..
tapi setelah dipikir-pikir lagi, ada benarnya juga pertanyaan tadi. kita sebagai manusia cenderung mematok ukuran keberhasilan pada orang lain yang lebih berkecukupun. patokan itu semakin meningkat kala kita menemukan sosok orang yang lebih kaya. begitu seterusnya. lelah. capek mata karena kadang kita terlalu silau dengan gemerlapnya harta. juga sekaligus capek hati mengingat ketiadaan rasa syukur pada apa yang dimiliki.
jangan salah. saya juga seringkali merasa demikian. sibuk berkarir, meluaskan jejaring dan berusaha menambah pundi-pundi uang melalui berdagang. semua itu beralur cepat dalam hidup sampai suatu ketika saya mendengar tukang cuci dikos berucap syukur alhamdullilah saat Ia bisa makan sahur hanya dengan segelas teh manis saja.
sontak saya memburunya dengan pertanyaan: "trus ibu gak laper siang-nya? trus Ibu kuat? beneran, Bu?" hanya senyum simpul yang diatunjukkan. "yah abis mau makan apa lagi neng Ibu-mah syukurin aja makanan yang ada. Dikasih orang, syukur. gak dikasih juga kagak apa-ape,"ucapnya dengan logat Betawi yang kental.
Dari sana ingatan saya kembali disegarkan. terkadang saya terlalu menuntut diri untuk meraih A-B-C dengan kalkulasi logika. kalau kita meraih dunia dengan segenap kekuatan daya dan pikiran, apa yang kita inginkan pasti terengkuh. padahal ada banyak variabel yang membuat keinginan kita itu akhirnya tandas. Jangan sampai ketika ingin meraih dunia, kepentingan akhirat terlupakan.
Berpikir logis itu adalah keharusan. Hanya saja tidak bisa semua dihitung dengan materi. hal yang tidak bisa dihitung itu adalah kebahagiaan. ohh, jadi ini maksud dari ungkapan seorang sahabat hati yang mempunyai motto hidup: "Dunia ditangan, akhirat dihati,"
lucu juga ya. kenapa dia selalu mempertanyakan itu. "Ah lu aja yang sirik dan gak mampu seperti dieee,"ucap saya nyerocos..
tapi setelah dipikir-pikir lagi, ada benarnya juga pertanyaan tadi. kita sebagai manusia cenderung mematok ukuran keberhasilan pada orang lain yang lebih berkecukupun. patokan itu semakin meningkat kala kita menemukan sosok orang yang lebih kaya. begitu seterusnya. lelah. capek mata karena kadang kita terlalu silau dengan gemerlapnya harta. juga sekaligus capek hati mengingat ketiadaan rasa syukur pada apa yang dimiliki.
jangan salah. saya juga seringkali merasa demikian. sibuk berkarir, meluaskan jejaring dan berusaha menambah pundi-pundi uang melalui berdagang. semua itu beralur cepat dalam hidup sampai suatu ketika saya mendengar tukang cuci dikos berucap syukur alhamdullilah saat Ia bisa makan sahur hanya dengan segelas teh manis saja.
sontak saya memburunya dengan pertanyaan: "trus ibu gak laper siang-nya? trus Ibu kuat? beneran, Bu?" hanya senyum simpul yang diatunjukkan. "yah abis mau makan apa lagi neng Ibu-mah syukurin aja makanan yang ada. Dikasih orang, syukur. gak dikasih juga kagak apa-ape,"ucapnya dengan logat Betawi yang kental.
Dari sana ingatan saya kembali disegarkan. terkadang saya terlalu menuntut diri untuk meraih A-B-C dengan kalkulasi logika. kalau kita meraih dunia dengan segenap kekuatan daya dan pikiran, apa yang kita inginkan pasti terengkuh. padahal ada banyak variabel yang membuat keinginan kita itu akhirnya tandas. Jangan sampai ketika ingin meraih dunia, kepentingan akhirat terlupakan.
Berpikir logis itu adalah keharusan. Hanya saja tidak bisa semua dihitung dengan materi. hal yang tidak bisa dihitung itu adalah kebahagiaan. ohh, jadi ini maksud dari ungkapan seorang sahabat hati yang mempunyai motto hidup: "Dunia ditangan, akhirat dihati,"
senang-bersalah
Hari ini saya senang-sekaligus bersalah. senang karena bersua kembali dengan sahabat karib semasa di Jogja. sekaligus bersalah karena walaupun sudah dua tahun belakangan ini dia tinggal di ibukota, kami jarang bertemu. berulang kali dia meminta saya menyambanginya. namun karena alasan klise seorang pekerja, saya selalu menampik tawarannya. "halah mbok nginep nang apartemenku, cik. tante-ku ra ono,"ucapnya yang setahun belakangan ini memanggil saya dengan sebutan: Cik!. kemudian saya kembali menolak dengan segudang alasan.
rasa bersalah itu bertambah ketika malam ini saya membaca blog-nya yang pernah kami buat bersama tahun 2005-2006. saat itu kami masih kuliah. demam blogger begitu kencangnya menerpa anak perkuliahan. setelah kepindahan saya ke Jakarta, Ia mempercayakan kata kunci blog-nya pada saya. "Ra popo, mbak, ben blog-ku nggenah ae,"ulasnya. Ia sengaja memberikan kata kunci tersebut untuk saya benahi desain-nya.
saya tak menyangka sahabat karib saya itu tetap rajin menulis. bercerita tentang sahabat karib kami lainnya, teman-temannya dikantor, sampai masalah percintaannya. Saya kagum sekaligus menyesal. ternyata ada banyak cerita yang tidak saya tahu. saya absen mengunjunginya. saya alpa menghubunginya. saya sempat terlupa kalau masih memiliki sahabat "gojek-kere". satu harapan dihati, mudah-mudahan kepekaan hati saya tidak tumpul.
maafkan saya Cece.namun satu hal yang pasti, rasa sayang itu tetap ada buat-mu.
rasa bersalah itu bertambah ketika malam ini saya membaca blog-nya yang pernah kami buat bersama tahun 2005-2006. saat itu kami masih kuliah. demam blogger begitu kencangnya menerpa anak perkuliahan. setelah kepindahan saya ke Jakarta, Ia mempercayakan kata kunci blog-nya pada saya. "Ra popo, mbak, ben blog-ku nggenah ae,"ulasnya. Ia sengaja memberikan kata kunci tersebut untuk saya benahi desain-nya.
saya tak menyangka sahabat karib saya itu tetap rajin menulis. bercerita tentang sahabat karib kami lainnya, teman-temannya dikantor, sampai masalah percintaannya. Saya kagum sekaligus menyesal. ternyata ada banyak cerita yang tidak saya tahu. saya absen mengunjunginya. saya alpa menghubunginya. saya sempat terlupa kalau masih memiliki sahabat "gojek-kere". satu harapan dihati, mudah-mudahan kepekaan hati saya tidak tumpul.
maafkan saya Cece.namun satu hal yang pasti, rasa sayang itu tetap ada buat-mu.
Thursday, August 05, 2010
Semburat Merah Muda
Hari ini aku jatuh cinta lagi...
dengan orang yang sama
detak ini sama rasanya seperti ketika sembilan tahun lampau aku mengenalnya.
tak mampu berkata apa-apa lagi
benar...
hari ini aku jatuh cinta lagi
dengan orang yang sama
detak ini sama rasanya seperti ketika sembilan tahun lampau aku mengenalnya.
tak mampu berkata apa-apa lagi
benar...
hari ini aku jatuh cinta lagi
Tuesday, January 12, 2010
kota magnet
Pandangan saya tak bisa lurus kedepan. Berkali-kali badan setengah berputar mengubah posisi duduk memandang papan penunjuk suatu kota. Semakin jauh papan penunjuk itu semakin kecil dari arah belakang mobil yang kami tumpangi. Gelisah. Kota itu seperti magnet buat saya. Tak rela meninggalkan-nya. Ada sejumput kenangan. Menyebutnya bisa membuat hati tergetar. Dikota itu saya pernah mengenal arti persahabatan dan cinta. Memori dua tahun silam saat kami pernah memetakan “visi 2010”.
........lamat-lamat terdengar petugas tol Jasa Raharja mengucapkan selamat datang kembali ke Jakarta........
........lamat-lamat terdengar petugas tol Jasa Raharja mengucapkan selamat datang kembali ke Jakarta........
Friday, December 25, 2009
Thursday, December 24, 2009
Isi kembali
Apa yang salah dengan saya?
Seharian dikantor tapi ga ada satu laporan-pun yang berhasil terealisasi. kalau dipikir-pikir, iya kali ya, saya terlalu sosial.
hmppphhh...sosial? Gitu sih yang dibilang oleha kakak saya. Bagi saya kata sosial lebih diartikan sebagai ingin-tahu-banyak karakter-orang-dan-kebutuhannya-
Ada banyak pikiran berkelebatan. Satu belum kelar, lalu saya bisa beralih pada lainnya. Sama seperti malam ini. Saya terinspirasi menulis di blog kembali setelah membaca hampir 50 persen isi blognya Sang Dewi Pengetahuan
Isinya yang menarik, menggerakkan saya untuk curhat lagi diblog sendiri ini.
Pingin rasanya mengganti template blog yang kadung menampung curhatan patah arang, asa en juga sampai patah hati..hiks.
Sutralah. yang sudah berlalu, yo monggo berlalu-la...iddih appaan sii**
Ok ini saatnya mulai nulis lagi.
ps: jadi inget minggu depan udah taun baru 2010, kan ya? Sudah hampir setaun saya ga membisikkan cerita pada teman-teman diblog ini :(
Seharian dikantor tapi ga ada satu laporan-pun yang berhasil terealisasi. kalau dipikir-pikir, iya kali ya, saya terlalu sosial.
hmppphhh...sosial? Gitu sih yang dibilang oleha kakak saya. Bagi saya kata sosial lebih diartikan sebagai ingin-tahu-banyak karakter-orang-dan-kebutuhannya-
Ada banyak pikiran berkelebatan. Satu belum kelar, lalu saya bisa beralih pada lainnya. Sama seperti malam ini. Saya terinspirasi menulis di blog kembali setelah membaca hampir 50 persen isi blognya Sang Dewi Pengetahuan
Isinya yang menarik, menggerakkan saya untuk curhat lagi diblog sendiri ini.
Pingin rasanya mengganti template blog yang kadung menampung curhatan patah arang, asa en juga sampai patah hati..hiks.
Sutralah. yang sudah berlalu, yo monggo berlalu-la...iddih appaan sii**
Ok ini saatnya mulai nulis lagi.
ps: jadi inget minggu depan udah taun baru 2010, kan ya? Sudah hampir setaun saya ga membisikkan cerita pada teman-teman diblog ini :(
Thursday, September 04, 2008
Berlibur Bersama Keluarga Waipo
2008.09.09
Lima hari lagi. 09.09,2008 atau bila dalam penulisan mandarin : 2008.09.09
Bila tanggal dan bulan dijumlahkan, hasilnya tetap 9. Kadang saya berpikir, kenapa tidak tahun lalu keinginan itu muncul: 09.09.2007. Jika tanggal, bulan, tahun dijumlahkan, hasilnya tetap 9. Angka 9 bisa merujuk keberbagai filosofi angka dari berbagai budaya.
1. Asmaul husna atau nama baik Allah berjumlah 99.
2. Dalam kepercayaan budaya Tionghoa, angka 9 -selain angka 8-yang dilafalkan Jiu berarti angka tertinggi dan diharapkan membawa keberuntungan. angka 9 yang dilafalkan “ciu”, dengan padanan makna dengan kata yang memiliki arti “abadi”, “langgeng”, “lama” ataupun “lestari”. Sehingga dengan mengucapkan angka 9, mengandung doa dan harapan agar sesuatu yang diinginkan itu bisa berlangsung selama-lamanya. Misalnya, harapan berbahagia sampai selama-lamanya.
3. Tanpa disadari, tanggal 9 jatuh dihari selasa dimana itu adalah hari kelahiran saya.
ah, apapun itu, semuanya hanya kebetulan saja. Insya Allah, lahir dan batin saya siap menjalani semuanya. Seminggu terakhir saya hanya bisa berdoa dengan maksud hati dan pikiran lebih mantap. Semoga dengan ini saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik.
amin.
Bila tanggal dan bulan dijumlahkan, hasilnya tetap 9. Kadang saya berpikir, kenapa tidak tahun lalu keinginan itu muncul: 09.09.2007. Jika tanggal, bulan, tahun dijumlahkan, hasilnya tetap 9. Angka 9 bisa merujuk keberbagai filosofi angka dari berbagai budaya.
1. Asmaul husna atau nama baik Allah berjumlah 99.
2. Dalam kepercayaan budaya Tionghoa, angka 9 -selain angka 8-yang dilafalkan Jiu berarti angka tertinggi dan diharapkan membawa keberuntungan. angka 9 yang dilafalkan “ciu”, dengan padanan makna dengan kata yang memiliki arti “abadi”, “langgeng”, “lama” ataupun “lestari”. Sehingga dengan mengucapkan angka 9, mengandung doa dan harapan agar sesuatu yang diinginkan itu bisa berlangsung selama-lamanya. Misalnya, harapan berbahagia sampai selama-lamanya.
3. Tanpa disadari, tanggal 9 jatuh dihari selasa dimana itu adalah hari kelahiran saya.
ah, apapun itu, semuanya hanya kebetulan saja. Insya Allah, lahir dan batin saya siap menjalani semuanya. Seminggu terakhir saya hanya bisa berdoa dengan maksud hati dan pikiran lebih mantap. Semoga dengan ini saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik.
amin.
Guru Shaolin Kami, Yang Laoshi

Awalnya kami bertiga: jie Meilind, Rikka Mei-mei dan saya hanya bisa terbengong ria. Hari itu kami kedatangan guru baru dari Zongguo (baca: cungkuo=Cina). Yang Laoshi (baca : laoshe= guru) merupakan panggilan hormat kami padanya. Dialah yang menggantikan Liu Laoshi yang pulang ke provinsi Shecuan, Cina dua bulan lalu.
Si guru ganteng itu betul-betul membuat kami bengong. Tutur kata-nya cepat sekali. Logat Beijingnya yang kental justru tidak membuat kami berhasrat ingin berbicara seperti dia. Hal ini berbeda dengan ketika kita berhadapan dengan penutur asli bahasa Inggris. Yang Laoshi berbicara justru terkesan seperti orang kumur-kumur. "Opo tho jarene. Aku ki ra mudeng,"ucap jie Meilind kesal. Ibu berumur 68 tahun harus memicingkan matanya dan mencondongkan badannya agar ucapan Yang Laoshi tidak terdistorsi terlalu lebar. Jie Meilind yang juga keturunan Tionghoa-Wonosobo itu, sedikit menaikkan kacamata plusnya pada batang hidungnya
Kemudian Jie Meilind bertanya: "Ni shi na ren? (Asal kamu dari mana)" Namun, entah bagaimana kok pemuda berumur 20 tahun itu malah kebalik ga ngerti. Mungkin karena nada pengucapan kami tidak pas. Dalam bahasa Mandarin, meski kata yang diucapkan sama, tapi salah nada pengucapan, bisa berarti berbeda. Akhirnya kami menggunakan bahasa Inggris. "Where do you come from? What city?" Tiba-tiba jawabannya ajaib. "CD? ooo, Guangpan (baca: kuangphan)" Jawaban itu lebih ga nyambung lagi. Karena guangpan sendiri berarti adalah Compact Disc alias CD. Yang laoshi mengira kami bertanya bahasa mandarin dari kepingan musik.
Hari pertama selama 1.5 jam pelajaran tersebut penuh kesimpangsiuran. Kami bertanya B..eee.Yang Laoshi menjawab D. Begitulah. Menggelikan sekali. Tapi serrruuu banget. Terutama kami bertiga sering "menggodanya". eitts, jangan ngeres dulu pikirannya. Maksudnya, kami sering membicarakannya dengan bahasa Indonesia. "eee, Rikk, kayyak Shaolin muda, ya dia,"ucap saya pada Rikka mei-mei. Tapi jujur. Dia sosok yang menarik. Saya mencoba mencari persamaan antara bhiksu Shaolin dengannya. Tulisan hanzi-nya (baca: hantse= tulisan mandarin) itu loohhh, wush-wush sudah seperti penulis kaligrafi profesional, cepat dan rapi. Goresannya meliuk tajam dan sangat menggambarkan pemuda tionghoa yang artistik.
Pun begitu, pemuda yang dikirim menjadi guru lewat Kedutaan Besar Cina di Indonesia tak bisa menghilangkan kekanak-kanakkannya. Kalau ia merasa apa yang diucapkannya konyol, maka ia akan terlihat grogi. he..he..he, dia salah masuk kelas kali yaaa. Yaiiiyalahhh, masuk ke sarang tiga pendekar wanita geto loh. Kalau sedang tertawa atau bahkan hanya tersenyum saja, matanya hanya berbentuk segaris.
Untungnya kami bukan murid jahil. Sampai sekarang masih agak sulit untuk mbercandain dia. lha wong bahasa inggrisnya kurang lancar. Sedangkan murid-muridnya masih bebal mengucapkan mandarin.
Tapi saya masih mengingatnya ketika akan memasuki kelas 1 pada hari terakhir kami. "Ni hao! Ni lai wan le (Halo, kamu telat),"ucapnya diluar gedung tempat kami belajar. Saya yang awalnya mau masuk dan ingin segera berlari, tiba-tiba terhenti dan memaksakan menengok keluar. "Ni hao! Duibuqi, wo lai wan le (tuipuci, wo lay wan le= maaf, saya terlambat),"ucap saya. Sempat terdengar sayup : "Meiguanxi (meikuansi=tak mengapa),". Akhirnya saya harus segera pamit untuk naik ke ruangan atas. Chen Laoshi sudah menunggu saya.
Hiks..hiks, semoga kelas berikutnya bertemu lagi dengan Yang Laoshi.
Tuesday, July 29, 2008
House of My Heart
My house is small
No mansion for a Millionaire
But there's room for love
and there is room for friends
That all I care...
No mansion for a Millionaire
But there's room for love
and there is room for friends
That all I care...
Ulang Tahun Ibu
Bulan Juli adalah bulannya Ibu dan adik saya. Ibu berulang tahun tanggal 23 Juli. Sedangkan Yuda, si bontot, kelahiran 28 Juli. Keduanya merupakan orang yang sangat saya sayangi. Walaupun seringkali muncul perbedaan pendapat diantara kami, namun dalam diam, masing-masing dari kami tahu dan sangat mengerti: ada rasa kasih dan sayang yang tersemat hangat.
Bagi saya Ibu adalah sosok panutan. Kalau harus menengok jauh kebelakang, ada rasa sesal tersembul. Ingat akan kenakalan saya pada usia belasan tahun, jadi bikin seddih. Seddih, rasanya, kok saya tega, ya melakukan hal-hal yang mengkhawatirkan beliau.
Melihat kiprah Ibu, tidak hanya melihatnya menjadi wakil biduk rumah tangga. Sungguh, saya belajar banyak hal pada Ibu yang tahun ini usianya bertambah menjadi 53 tahun. Beliau adalah seorang ibu pekerja. Tak diam berpangku tangan hanya menunggu pemberian gaji dari Bapak. Dulu saya sering merengek dan pura-pura menangis. “Kenapa sih Ibu harus kerja. Aku kesepian, Buuu,”ujar saya memelas dan akhirnya menangis sesenggukan. Berbagai alasan dikemukakannya. Gaji Bapak sebagai karyawan BUMN tidak mungkin mencukupi seluruh kebutuhan ketiga anaknya.
Lama kelamaan, sebagai anak kecil yang sedang meraba-raba kehidupan sesungguhnya, mulai mengerti. Begitu banyak sisi yang bisa dicontoh dengan mempunyai ibu pekerja. Bagi saya, Ibu memang ibu yang super. Sebelum berangkat kerja, Ibu pasti akan memasak makanan untuk sarapan pagi seluruh keluarga. Setiap anak-bahkan Bapak-harus membawa bekal. “Jangan dibiasakan jajan diluar,”ucap Ibu seringkali menasihati. Karena itulah, setiap malam, Ibu selalu meracik bumbu untuk dimasak keesokan harinya. Untuk hal ini saya acungi empat jempol tangan deh, kalo ada. Bukan apa-apa. Capeknya itu loo. Ga kebayang-kan betapa lelahnya mengerjakan pekerjaan kantor. Belum lagi ketika pulang, kadang harus dijejali masalah salah satu anaknya yang bandel. Belum lagi ditambah rutinitas wajib-nya yaitu mengoreksi PR sekolah ketiga anaknya. Belum lagi ini dan itu.
Hal yang sangat mengharukan tentang si super mom itu adalah ketika saya sakit, dan harus istirahat di rumah. Tiba-tiba pada waktu jam makan siang, Ibu pulang dari kantor dan membawa makanan untuk saya. wah, terharu sekali. Saya tahu, jarak antara kantor Ibu dengan rumah tidak bisa dibilang dekat. Setelah mendulang saya makan dan menancapkan ciuman dikening putri tunggalnya ini, Ibu pamit kembali ke kantor.
Atau dilain hari saya menjadi sangat terharu. Ketika itu saya harus mengikuti bimbingan belajar kelas VI SD. Karena waktu pelajarannya sampai sore, setiap anak disarankan oleh guru untuk membawa bekal makan siang. Ibu dengan susah payah meminta izin pada atasannya untuk mengantarkan bekal makan siang ke sekolah. Saat itu saya merasa malu pada teman-teman. Kok, sudah besar, makan siang saja pakai diantar ke kelas. Tapi, sebetulnya jauh dilubuk hati terdalam saya menangis terharu. Begitu besar perhatian Ibu pada anaknya.
Hal-hal kecil seperti itulah yang membentuk karakter saya sekarang. Karena Ibu-lah kini saya sangat menghargai masakan rumah. Bahkan sampai sekarang-pun, saya membiasakan bekal makanan sendiri. “Orang yang suka makan masakan rumah adalah orang yang menghargai apa arti keluarga,”ucap Bapak pada suatu saat.
Sifat Ibu sangat bertolak belakang dengan saya. Melankolisnya itu lo, bok! Sedangkan saya adalah tipe gadis yang santai dan suka tantangan. Pernah ketika lomba paduan suara di SMU, saya harus pulang larut malam. Buat saya tidak masalah. Saya punya alasan yang kuat kenapa harus pulang malam. Begitu sampai di depan rumah, Ibu sudah menunggu saya dengan tatapan sedih, cemas, dan mata yang sembab. Sudah tertebak, serentetan pertanyaan diluncurkan pada saya. “Pulang sama siapa? Ngapain aja pulang selarut ini? Kok bisa ga ngabarin Ibu? Kalau ada apa-apa gimana....???,” ucapnya. dan akhirnya keputusan final-nya: “Mulai besok ga ada lagi latihan paduan suara,” TITIK tanpa koma.
Semangatnya memasukkan ketiga anaknya les mengaji Al-Qur'an juga membuat saya semakin menyayangi beliau. Sampai sekarang Ibu terbata-bata mengaji. Tapi beliau tidak pantang menyerah. Prinsipnya adalah walaupun beliau tidak bisa mengaji, ketiga anaknya tidak boleh seperti dirinya. Kesabarannya membimbing Bapak untuk sholat juga adalah salah satu hal yang membuat saya menyesal ketika mengingat ucapan pedas saya telah menyakiti Ibu.
Yaahhh, apapun itu....saya sangat mencintai beliau. Karena beliau-lah -salah satunya-, saya bisa hadir dimuka bumi ini dan merasakan nikmatnya hidup. Karena beliau-lah saya mengerti bagaimana seharusnya ibu rumah tangga bisa membagi waktu antara pekerjaan kantor dengan keluarga. Karena bunda saya itulah kini saya mengerti konsekuensi menjadi ibu pekerja. Sungguh, semuanya yang hadir disekeliling kita, tidak ada yang sia-sia.
Selamat ulang tahun, Ibu...
cup...cup.
Bagi saya Ibu adalah sosok panutan. Kalau harus menengok jauh kebelakang, ada rasa sesal tersembul. Ingat akan kenakalan saya pada usia belasan tahun, jadi bikin seddih. Seddih, rasanya, kok saya tega, ya melakukan hal-hal yang mengkhawatirkan beliau.
Melihat kiprah Ibu, tidak hanya melihatnya menjadi wakil biduk rumah tangga. Sungguh, saya belajar banyak hal pada Ibu yang tahun ini usianya bertambah menjadi 53 tahun. Beliau adalah seorang ibu pekerja. Tak diam berpangku tangan hanya menunggu pemberian gaji dari Bapak. Dulu saya sering merengek dan pura-pura menangis. “Kenapa sih Ibu harus kerja. Aku kesepian, Buuu,”ujar saya memelas dan akhirnya menangis sesenggukan. Berbagai alasan dikemukakannya. Gaji Bapak sebagai karyawan BUMN tidak mungkin mencukupi seluruh kebutuhan ketiga anaknya.
Lama kelamaan, sebagai anak kecil yang sedang meraba-raba kehidupan sesungguhnya, mulai mengerti. Begitu banyak sisi yang bisa dicontoh dengan mempunyai ibu pekerja. Bagi saya, Ibu memang ibu yang super. Sebelum berangkat kerja, Ibu pasti akan memasak makanan untuk sarapan pagi seluruh keluarga. Setiap anak-bahkan Bapak-harus membawa bekal. “Jangan dibiasakan jajan diluar,”ucap Ibu seringkali menasihati. Karena itulah, setiap malam, Ibu selalu meracik bumbu untuk dimasak keesokan harinya. Untuk hal ini saya acungi empat jempol tangan deh, kalo ada. Bukan apa-apa. Capeknya itu loo. Ga kebayang-kan betapa lelahnya mengerjakan pekerjaan kantor. Belum lagi ketika pulang, kadang harus dijejali masalah salah satu anaknya yang bandel. Belum lagi ditambah rutinitas wajib-nya yaitu mengoreksi PR sekolah ketiga anaknya. Belum lagi ini dan itu.
Hal yang sangat mengharukan tentang si super mom itu adalah ketika saya sakit, dan harus istirahat di rumah. Tiba-tiba pada waktu jam makan siang, Ibu pulang dari kantor dan membawa makanan untuk saya. wah, terharu sekali. Saya tahu, jarak antara kantor Ibu dengan rumah tidak bisa dibilang dekat. Setelah mendulang saya makan dan menancapkan ciuman dikening putri tunggalnya ini, Ibu pamit kembali ke kantor.
Atau dilain hari saya menjadi sangat terharu. Ketika itu saya harus mengikuti bimbingan belajar kelas VI SD. Karena waktu pelajarannya sampai sore, setiap anak disarankan oleh guru untuk membawa bekal makan siang. Ibu dengan susah payah meminta izin pada atasannya untuk mengantarkan bekal makan siang ke sekolah. Saat itu saya merasa malu pada teman-teman. Kok, sudah besar, makan siang saja pakai diantar ke kelas. Tapi, sebetulnya jauh dilubuk hati terdalam saya menangis terharu. Begitu besar perhatian Ibu pada anaknya.
Hal-hal kecil seperti itulah yang membentuk karakter saya sekarang. Karena Ibu-lah kini saya sangat menghargai masakan rumah. Bahkan sampai sekarang-pun, saya membiasakan bekal makanan sendiri. “Orang yang suka makan masakan rumah adalah orang yang menghargai apa arti keluarga,”ucap Bapak pada suatu saat.
Sifat Ibu sangat bertolak belakang dengan saya. Melankolisnya itu lo, bok! Sedangkan saya adalah tipe gadis yang santai dan suka tantangan. Pernah ketika lomba paduan suara di SMU, saya harus pulang larut malam. Buat saya tidak masalah. Saya punya alasan yang kuat kenapa harus pulang malam. Begitu sampai di depan rumah, Ibu sudah menunggu saya dengan tatapan sedih, cemas, dan mata yang sembab. Sudah tertebak, serentetan pertanyaan diluncurkan pada saya. “Pulang sama siapa? Ngapain aja pulang selarut ini? Kok bisa ga ngabarin Ibu? Kalau ada apa-apa gimana....???,” ucapnya. dan akhirnya keputusan final-nya: “Mulai besok ga ada lagi latihan paduan suara,” TITIK tanpa koma.
Semangatnya memasukkan ketiga anaknya les mengaji Al-Qur'an juga membuat saya semakin menyayangi beliau. Sampai sekarang Ibu terbata-bata mengaji. Tapi beliau tidak pantang menyerah. Prinsipnya adalah walaupun beliau tidak bisa mengaji, ketiga anaknya tidak boleh seperti dirinya. Kesabarannya membimbing Bapak untuk sholat juga adalah salah satu hal yang membuat saya menyesal ketika mengingat ucapan pedas saya telah menyakiti Ibu.
Yaahhh, apapun itu....saya sangat mencintai beliau. Karena beliau-lah -salah satunya-, saya bisa hadir dimuka bumi ini dan merasakan nikmatnya hidup. Karena beliau-lah saya mengerti bagaimana seharusnya ibu rumah tangga bisa membagi waktu antara pekerjaan kantor dengan keluarga. Karena bunda saya itulah kini saya mengerti konsekuensi menjadi ibu pekerja. Sungguh, semuanya yang hadir disekeliling kita, tidak ada yang sia-sia.
Selamat ulang tahun, Ibu...
cup...cup.
Friday, July 18, 2008
Belajar dari Diana Santosa
.jpg)
Melihat SWA yang baru beberapa hari lalu terbit, jadi teringat dengan Ibu Diana Santosa, pewaris tahta Batik Danar Hadi. Foto putri kedua dari pasangan H. Santosa Doellah dan Hj. Danarsih itu menjadi cover SWA edisi Juli 2008.
Ingat Danar Hadi juga jadi ingat Teres, teman satu organisasi penerbitan di kampus dulu. Dulu pernah ketika sedang ke Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), saya bertemu Teres bersama kekasihnya, Adi, di pelataran BBY. Adi sendiri memang bekerja di kawasan BBY. Waktu itu Teres sedang memperlihatkan pada Adi tanda ACC skripsinya tentang Batik Danar Hadi. “Riri, skripsiku tentang Batik Danar Hadi di ACC sama dosenku,”ucapnya bungah.
Kali ini fokus tulisan saya adalah tentang manajemen PT. Batik Danar Hadi. Pertama kali melihat dan akhirnya penasaran bertemu dengan Diana Santosa adalah sesusai membaca profilnya di Kompas minggu, tahun lalu. cantikkkkkkk banget. Ya, gimana sih cantik-nya perempuan Solo gitu loh. ayu. Dengan rambut yang tergerai sepunggung, Ibu Diana tampak anggun. Kayaknya ngga dandan aja udah ayu banget.
Dulu teman kos saya asal Solo pernah membanggakan diri. “Pokoke, cah Solo ki ayu-ne bedo,”ungkap mbak Nois pada Arin dan saya. Arin sahabat saya yang besar di Wonosari,malah mendebat. “Halah. yo podo wae,”ucapnya sambil tertawa. .he..he.he ya terserah dah. Saya merasa perdebatan itu tidak penting. Berdebat atau tidak, saya sendiri tetap memiliki fisik yang standar banget...bahkan mungkin cenderung dibawah standar. Kagak bisa dirubah. ya, gitu-gitu aja. ha.ha.ha
Ngga nyangka sebulan lalu justru saya yang mendapatkan kesempatan wawancara dengannya. Lebih ngga nyangka lagi ketika kalimat pertama mengenai perbedaan manajemen dengan Bapak-nya meluncur darinya. “Kenapa you tawari saya cuma segini, Pak. Padahal ditempat lainnya saya dapat lebih besar,”ungkap Diana tanpa tedeng aling-aling ketika Bapaknya memintanya mengurusi bisnis batik dan menawari gaji sebagai Managing Director. Saat itu saya cukup terhenyak. Wajah yang terkesan kalem dan lembut ternyata justru tidak membuat dia sebagai perempuan Solo yang pasif. Ibu dua putra itu tidak sungkan mengeluarkan kata-kata spontan.
Lebih terhenyak lagi ketika dalam perombakan manajemen organisasi perusahaan, Diana berani menggeser orang kepercayaan sang ayah. Orang itu dianggap sudah tidak produktif lagi. “Saya mikir bagaimana caranya supaya bisa menggesernya tanpa membuat sakit hati,”ulasnya. Kalimat demi kalimat yang meluncur semakin mengukuhkan Diana sebagai perempuan tangguh, tegas dan tanpa kompromi mengatur perusahaan. Tanpa kompromi disini maksudnya adalah semuanya harus terukur.
Pola manajemen terukur diterapkannya dengan menggunakan sistem penilaian kinerja diatas kertas pada seluruh karyawan. Tidak ada lagi subyektifitas penilaian karena kedekatan personal antara pemilik perusahaan dengan karyawan.
Seringkali pola pikir antara kaum muda dengan generasi lebih tua, banyak bersebrangan. Ketika Pemilu 1997 berakhir ricuh, penjualan Batik Danar Hadi sampai pada titik terrendah. “Kamu tentu orang yang tidak tolol. Seharusnya bisa dong memprediksi-kan jika terjadi seperti ini,”ucap Diana menirukan perkataan ayahnya 11 tahun lalu. “Waktu Bapak masih bicara, saya mberesi barang, lalu keluar dari ruangan itu. Saya sudah ngga kuat lagi,”ulasnya tersenyum manis mengingat perdebatan alot kala itu.
Saya hanya bisa menahan napas karena saking serunya mendengar Ibu Diana bercerita. Sungguh, perempuan kelahiran Surakarta 21 November 1969 itu mengajarkan saya banyak hal. Terutama belajar menghadapi perbedaan pendapat dengan orang tua. “Akhirnya saya menyadari. Bapak tidak mau dilawan dengan frontal. Siapapun tidak mau dipermalukan,”ucap Diana yang terburu-buru pergi ke bandara dengan tujuan Solo.
Subscribe to:
Posts (Atom)




